blognya cah-cah sipil UGM

komunitas blogger Teknik Sipil dan Lingkungan UGM

Malas…mau ngapa-ngapain… @%$#&*!!

Posted by Arifan pada Februari 20, 2008

Wahyu, sebut saja demikian..seorang pegawai negeri yang baru, belum paham benar mengenai apa yang harus dilakukan. Ia lebih memilih duduk diam di ruangannya sambil melihat-lihat emailnya, tak lupa ia mengaktifkan yahoo messenger nya supaya ia bisa ngobrol (wekekek..mirip banget sama penulis :p)

Tak jauh beda dengan Siti, mahasiswi sebuah perguruan tinggi terkenal di sebuah daerah. Ia telah lulus dan sekarang menjadi jobseeker. Ternyata dia baru menyadari bahwa IP yang tinggi yang telah diraihnya hanya mampu membantu sedikit dalam melamar pekerjaan yang dia inginkan, (yaitu sebatas meluluskan dia pada saringan awal).
Siti merupakan sosok mahasiswi idealis, ia ingin mendapatkan pekerjaan yang aman baginya. Tak tanggung tanggung ia telah menyelesaikan S2 dengan hasil cumlaude. Akan tetapi lingkungan yang sekarang ia hadapi berkata lain, yang dibutuhkan ternyata bukan IP tinggi, tapi bisa dikatakan IP yang biasa dan seabreg requirements laen yang ia tak dapatkan di bangku kuliahnya…

Hal ini pernah diamati Darmaningtyas (Kompas, 9 Februari 2008), bahwa ternyata lulusan dunia pendidikan sekarang mengeluhkan sulitnya mencari pekerjaan sedangkan para pencari tenaga kerja mengeluhkan sulitnya mencari tenaga kerja.

Lah kok Bisa?? Tanya Kenapa…(pinjam bahasanya Sophian Effendi ;D)

Ternyata apa yang dimiliki para lulusan tenaga kerja tidak semuanya dibutuhkan oleh para tenaga kerja, malah bisa dikatakan para pencari tenaga kerja membutuhkan hal yang lain dari para tenaga kerja. Dari sini bisa ditarik kesimpulan bahwa penyedia layanan pendidikan (tidak semuanya loh..) TERNYATA belum bisa memahami kebutuhan para pencari tenaga kerja, demikian sebaliknya..sehingga hal yang kelihatannya kontradiktif terjadi (pencari kerja dan pencari tenaga kerja sama-sama mengeluhkan susah memenuhi keinginannya)
Akan saya kutipkan penggalan dari harian Kompas :

“Hal itu dikatakan pengamat pendidikan Darmaningtyas, Jumat (8/2). Menurut dia, hal itu melahirkan paradoks: dunia usaha mengeluhkan sulit mendapat tenaga kerja, di sisi lain lulusan sekolah dan perguruan tinggi kesulitan mendapat pekerjaan.
”Terlebih ada kecenderungan, semakin tinggi tingkat pendidikan semakin besar keinginan mendapat pekerjaan yang aman. Mereka tak berani ambil pekerjaan berisiko seperti wiraswasta, trainer, atau penulis. Mereka pilih menganggur,” ujarnya.
Darmaningtyas melakukan studi kasus pada iklan lowongan kerja di harian Kompas Minggu, 6 Januari 2008. Ada 405 lowongan pekerjaan, 4,19 persen mensyaratkan indeks prestasi minimum, lainnya menekankan pada kemampuan kerja individu dan tim, kemampuan berbahasa asing, terutama Inggris, kemampuan mengoperasikan program komputer, kemampuan berkomunikasi, dan pengalaman kerja “

Nah, sekarang tampaklah penyebab ketimpangan/paradoks tersebut…
Akan tetapi pada tulisan kali ini bukan masalah dunia pendidikan atau dunia usaha yang menjadi fokusnya. Yang menjadi titik tekan saat ini adalah, penulis ingin men-share-kan pelajaran yang mudah-mudahan dapat di ambil.

Yaitu asahlah kemampuan Anda dimanapun Anda berada, tentunya dengan keahlian yang Anda minati (yang pasti yang positif..heheheh)

Secara tidak Anda sadari kemampuan itu akan bisa andalkan nantinya, entah itu saat Anda mencari pekerjaan, bahkan disaat Anda bekerja tapi saat lowong (waduh..gue banget..wekekek) Kemampuan tersebut seperti yang diungkapkan Darmaningtyas.
Oleh karena itu mari penulis berikan sebuah ungkapan perasaan..

Jangan Malas..
Jangan sampai sayap-sayap kreatifitasmu mulai lemah..
Belajarlah terbang, walaupun engkau mulai dengan mengepak-epakan sayap kecilmu
Kelak engkau kan sadar..
Latihanmu yang kau anggap memalukan ternyata mampu mengantarmu ke langit nun tinggi di sana..

Tambahan dari penulis kenamaan:
Tidak ada hal besar pernah terjadi di dunia kalau tak ada harapan yang dibesar-besarkan. (Jules Verne)

Arifan Jaya Syahbana

6 Tanggapan to “Malas…mau ngapa-ngapain… @%$#&*!!”

  1. ariebp said

    Mas,itulah enaknya jadi pns.Bisa nyante2😉

  2. Arifan said

    hehehehe..tiap orang bisa nyante dan sibuk, that’s depend on him/her self🙂

  3. Fan, yg bener itu that depends on. Depend kan kata kerja.
    He..

    Btw, kok pergi ke Bandung diem2 sih. Mana traktirannya..

  4. ary anasel said

    di era globalisasi ini, segala urusan di serahkan pada pasar, yang kemudian otoritas negara untuk hendak menentukan ‘dari mana dan mau kemana’ generasinya ini suda sangat kecil,, sebab negara lebih senang melemparkan tanggung-jawab terhadap aset-aset bangsa (kaum intelektual) ini kepada pasar international, bahkan dari tingkat kurikulum pun suda di settiing sedemikian agar bisa sama seperti kemauan pasar. bagiku ini sebuah langkah maju yang di pilih negara untuk meningkatkan daya kompetensi kaum intelektual di level pasar international. tapi satu hal yang tidak bisa kita pungkiri bahwa kita skr sama sekali tidak bisa berkompetensi di pasar international selama paradigma kaum terdidiknya masih sangat pragmatis dan selalu memandang pendidikan(kuliah) identik dengan selembar ijazah..tanpa membaca gerak laju perkembangan masyarakat di satu-sisi dan perkembangan pasar disisi-lain. nah ini yang harus kemudian kita perhitungkan..tapi bagiku kelemahannya paling mendasar terletak pada kesadaran kaum intelektual dalam memposisikan. kebanyakan kalau di tanya hendak kuliah untuk apa??kebanyakan di jawab pengen dapat kerja yang layak. jadi sejak awal masuk kampus mereka uda kejar setoran(pesanan ortu untuk jadi pekerja keras/buruh di perusahan maupun pada pemerintah) dan bagiku ini salah satu kesalahan terbesar, karna dalam proses nya nanti hanya semata2 yang dia kejar adalah ijazah dan bukan ilmunya untuk siap berkompeten di pasar..

  5. Wizasko Ardiansyah said

    memang keinginan untuk dapat bersaing dengan kompetitor asing dari paradigma bangsa yang sekarang kurang dari angkatan sebulumnya. Hal yang mungkin dapat meningkatkan daya saing itu mungkin dengan menghadapi para mahasiswa itu sendiri dengan kompetitornya..

  6. wardi said

    untuk mampu bersaing harus punya kompetensi, dan supaya keunggulannya dilihat kompetitor maka harus cari oportunity .. jadi ya dari awal kuliah memang perlu punya visi mau apa kemana untuk ‘jadi orang’

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: