blognya cah-cah sipil UGM

komunitas blogger Teknik Sipil dan Lingkungan UGM

Mobil Berdarah

Posted by zulaikha pada Maret 27, 2008

Pada suatu pagi ada sebuah mobil kijang dalam kondisi rusak, spion kiri hilang, dan ada ceceran darah memasuki sebuah kompleks. Merasa curiga tukang ojek di ujung gang menelusuri siapakah pemilik mobil ini. Sampailah ia di suatu rumah dan bertanya perihal mobil tersebut. Ternyata saudara penghuni rumah tersebut baru saja menabrak seseorang di jalan tol.

Beberapa hari kemudian terdengar berita ada korban tabrak lari di tol yang disebutkan penghuni rumah tersebut dan menewaskan satu orang. Dengan sigap tukang ojek yang ternyata juga Pak RT melaporkan pada polisi. Di saat yang hampir bersamaan ternyata penabrak mobil tersebut juga bermaksud melaporkan kejadian itu pada polisi.

Kecelakaan yang terjadi adalah korban disinyalir turun dari bus di tengah tol dan dengan kecepatan yang tinggi (mobil di tol (min 60 km/jam)) penabrak tidak melihat korban. Akhirnya tertabraklah korban. Konon tubuh korban hancur berkeping-keping.

Logikanya kecepatan tinggi akan menyebabkan momentum besar yang bisa merusak yang ditabraknya, plus disinyalir ketika tergeletak akibat kejadian pertama, mobil-mobil lain juga melindasnya, karena tidak melihat (mungkin).

Hfhh…secara pribadi kita akan mencari kesalahan ada di pihak siapa. Pihak penabrak, pihak korban, pihak penabrak kedua, ketiga, dan seterusnya, sampai ditemukan, atau pihak bus???

Hmmm….ini adalah realita.

Dalam perjalanan ke bandung dua minggu lalu, saya lewat tol Cipularang. Jika dulu Bandung-Jakarta harus ditempuh dalam 3-4 jam, sekarang hanya 2 jam-an sudah sampai dan jalannya tidak sedahsyat dulu, karena alinyemen tol cipularang dibuat dengan sangat baik. Cut and fill, pembuatan jemabtan-jembatan panjang, dan lain sebagainya. Rekayasa jalan raya benar-benar diterapkan…Hebat sekali ilmu sipil..saya bangga dengan konsorsium WIKA dan WASKITA yang membangun infrastruktur megah ini.

Namun kemudian saya dipaksa menengok bagian pinggir tol tersebut. Bapak-bapak merumput, rumah-rumah kecil dan menurut saya mereka adalah orang desa yang setiap hari harus mendengar kebisingan tol dan getaran kendaraan yang melewatinya…dan kemungkinan kecil sekali mereka menikmati jalan tol tersebut dengan mobil pribadi…Duh gusti,,,bagaimana ini?? Pantas bupati Bantul/Sleman (kalo saya ga salah) sempat (atau sekarang masih??) menolak wilayahnya dibangun jalan untuk kendaraan luar kota dengan alasan lingkungan saya akan rusak, menanggung polusi udara, getaran, dan suara plus masyarakat saya yang memanfaatkan hanya beberapa dan yang pasti habitat burung, linkugan alam, sawah penghasil padi akan hilang.

Demikianlah, mungkin korban adalah salah satu penduduk desa yang tanah sawahnya dikorbankan untuk membangun jalan tol tersebut, dan dia memilih merantau ke kota yang lebih besar. Karena rumahnya di tengah tol, jika harus keluar tol tentu saja ongkos transit menjadi lebih mahal, sehingga dia memilih diturunkan di tengah jalan tol dengan resiko taruhan nyawa. Sedangkan mobil berdarah hanya memenuhi syarat definisi jalan tol yang bebas hambatan dan dengan kecepatan tinggi..

Zulaikha…27/3/08

4 Tanggapan to “Mobil Berdarah”

  1. ida said

    Ehm, sejak artikel ini ditulis, 27/3, baru saya baca sekarang 8/5.

    Quote dari zul,
    “ini adalah realita”

    jika dilihat bahwa ini adalah ‘takdir’ nya si tertabrak, dan dikaitkan dengan teori relativitas, kemudian ditarik mundur beberapa waktu.. misal: pada waktu x jalan tol tdk jadi dibangun.. maka tidak akan ada kecelakan itu (tapi pada waktu y, si tertabrak tetap akan menemui ‘waktu’nya entah dengan cara apa). jadi ingat, sama film final destination…

    banyak sekali realita2 yang membuat hati kita ‘serrrr’ uhhh miris rasanya.. pengen melakukan apaaa… gt..
    kadang kalau lihat adik2 kecil pengemis, atau lihat bapak2/ibu2 lanjut usia masih membanting tulang dengan kerasnya.. (apakah tdk ada anak2 mereka?? atau keadaan anak2 mereka pun tidak jauh berbeda..), dll….pasti sering sekali rasa kasihan muncul, padahal belum tentu yang dikasihani mau dikasihani lho… jangan salah… bisa jadi yang ‘mengasihani’ itu ‘sejatine’ malah lebih kasihan…
    terbaik yang bisa dilakukan, antara lain “memuliakan pekerjaan” kita,,,,, dan terus ‘membaca’ dan mengambil pelajaran dari segala sesuatu terutama yang di kanan kiri kita.. tambahin depan belakang juga lah.. bonus, hehehe…

    tengs zul, ceritanya..

  2. Fikri said

    wew, artikel ini baru kubaca sekarang…
    anyway, menurutku pembangunan jalan tol perlu dipelajari juga dampak sosialnya. Bayangkan, jalan selebar 4 s/d 6 lajur sepanjang ratusan kilometer membuat garis demarkasi/pembatas yang membelah desa-desa. Orang yg mungkin dulu bebas mengunjungi kerabatnya, menggarap sawahnya atau sekedar mencari rumput di lahan kini harus menghadapi halangan berupa jalan tol. Sarana untuk memenuhi kebutuhan sosial dan ekonomi penduduk hendaklah lebih memadai, misalnya jembatan penyebrangan yg lebih lebar dan manusiawi, atau ground bypass, sehingga mereka ngga per “manjat” lagi (yg terakhir ada ngga di indonesia??). Itu saja pendapat saya…
    btw, pengalamanku ttg tol cipularang juga ada, sekedar share… ^^

    trims zul buat artikelnya..

  3. zulaikha said

    iya, nih..pada ga concern ma tulisanku :(….ga ding, thanks ya commentnya

  4. herr said

    @zulaikha
    yang penting tetep nulis, terserah ditanggepin orang apa nggak:mrgreen:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: