blognya cah-cah sipil UGM

komunitas blogger Teknik Sipil dan Lingkungan UGM

Reportase Kuliah Umum Prof. Yasufuku

Posted by Fikri Faris pada Agustus 6, 2008

Bulan ini jurusan kita kedatangan tamu dari Jepang, Prof. Noriyuki Yasufuku. Beliau datang sebagai visiting professor dari Kyushu University untuk menyampaikan kuliah umum berjudul Learning from Pile Foundation Design for New-Kitakyushu Airport Bridge pada tanggal 5 Agustus 2008 pada jam 09.30 pagi bertempat di ruang sidang biru JTSL FT UGM.  Kuliah umum tersebut dimoderatori oleh dosen kita Bapak Dr. Ahmad Rifa’i. Penulis berkesempatan untuk mengikuti kuliah tersebut secara langsung dan merasa “berkewajiban” untuk menyampaikan ilmu yang sudah didapat kepada teman-teman sekalian karena penulis merasa pada kuliah yang beliau sampaikan terdapat banyak hal yang baru dan bermanfaat.

Sedikit cerita tentang New-Kitakyushu Airport, bandara ini adalah salah satu dari bandara yang didirikan di atas pulau buatan selain bandara lain yang serupa di Jepang. Antara pulau dan daratan dihubungkan oleh jembatan (connecting bridge) sepanjang 2.1 km (gambar paling atas di artikel ini).

Sesuai dengan judulnya, pada kuliahnya Prof. Yasufuku menekankan pembahasan pada desain fondasi untuk connecting bridge. Pembahasan tentang ini dimulai tentang harmonisasi antara hasil investigasi dan desain, peta geoteknik, evaluasi kapasitas dukung tiang, reduksi faktor aman dilanjutkan pembahasan total cost benefit dan ditutup dengan kesimpulan.

Isi lebih detail dari kuliah tidak mungkin penulis sampaikan di artikel ini karena keterbatasan media dan waktu. Tetapi inti dari kuliah beliau adalah menjelaskan bahwa kematangan proses soil investigation dari suatu proyek berimplikasi pada penghematan biaya proyek secara keseluruhan.

Pada awalnya, proyek pembangunan jembatan penghubung New-Kitakyushu Airport melaksanakan investigasi tanah menggunakan Soil Penetratian Test (SPT) sehingga didapatkan peta geoteknik dan nilai N-SPT. Data yang terbatas tersebut dapat membawa hasil desain menjadi sangat konservatif dan memaksa engineer menggunakan faktor aman yang cukup besar. Hal ini disebabkan karena data SPT untuk desain fondasi menggunakan persamaan empiris yang menghasilkan nilai yang secara kuantitatif masih bersifat “kira-kira”.  Pada intinya desain hanya berdasarkan data SPT tidaklah rasional.

Kenyataan ini membawa investigasi tanah ke tahapan yang lebih detail. Pada tahapan ini dilaksanakan uji laboratorium secara komprehensif dan ditambah dengan uji kapasitas tiang dengan skala penuh. Dari 24 pier jembatan yang akan dibangun, 12 diantara diuji tiang skala penuh (full scale pile test). Hasil dari investigasi tanah yang lebih lengkap ini mendukung para insinyur untuk menghasilkan desain fondasi yang lebih rasional menggunakan persamaan yang lebih akurat. Tingkat keyakinan akan data investigasi juga menjadikan designer menjadi lebih berani menggunakan angka aman yang lebih kecil. Angka aman yang sebelumnya digunakan 3 direduksi menjadi 2,5. Walhasil, jumlah tiang yang digunakan dalam proyek jembatan ini pun berkurang.

Pengurangan jumlah fondasi tiang menghemat ongkos proyek secara berarti. Total cost keseluruhan proyek (termasuk investigasi tanah) berkurang sampai 16 % akibat pengurangan tiang walaupun secara parsial ongkos investigasi tanah menjadi lebih dua kali lipat lebih mahal dari investigasi tanah awal (2,11 kali). Hal ini adalah bukti nyata bagaimana data investigasi tanah dapat membawa hasil desain fondasi yang lebih rasional yang pada ujungnya dapat menghemat ongkos dan waktu proyek secara keseluruhan.

Pada sesi diskusi ada pertanyaan menarik dari salah seorang peserta, walaupun sudah di luar bahasan. Peserta tersebut menanyakan mengapa Jepang sering membangun bandara di laut. Prof. Yasufuku lalu mengemukakan beberapa alasan yaitu:

  • Jepang adalah negara yang tidak terlalu besar dan berkontur, sehingga sulit didapatkan lahan yang luas dan datar untuk dijadikan bandara. Wilayah yang berbukit-bukit juga membahayakan untuk penerbangan sipil
  • Penggunaan bandara di darat membatasi jumlah penerbangan dan jam penerbangan berkaitan dengan polusi suara yang dihasilkan. Membuatnya di laut dapat memungkinkan penerbangan pesawat-pesawat besar 24 jam non-stop.

Demikian sedikit dari yang penulis pahami setelah mengikuti kuliah umum Prof. Yasufuku. Mungkin ada dari teman-teman sekalian yang ingin menambahkan ataupun memperbaiki dipersilahkan. Semoga artikel ini dapat bermanfaat. Mohon maaf jika ada kesalahan dalam penulisan.

NB: file pdf tentang info New Kitakyushu Airport dapat diunduh di sini.

4 Tanggapan to “Reportase Kuliah Umum Prof. Yasufuku”

  1. Bagus sekali pemaparan dr konsultan kita ini (tepuk tangan buat pak fikri)
    setau saya sampai saat ini metode untuk menentukan kuat dukung tanah beberapa diantaranya menggunakan SPT, CPT, dan DMT (Dilato Meter). Nah yang terakhir ini mungkin temen2 belum tahu..alat ini dikembangkan di Italia, mempunyai beberapa keunggulan dibandingkan seniornya (SPT dan CPT). Penjelasan lebih lengkapnya lain kali saja..heheheheh
    Jadi menurut saya dengan mengkombinasikan ketiga alat tersebut seharusnya kapasitas dukung tanah yang lebih “meyakinkan” bisa didapat.
    Memang benar untuk merancang suatu bangunan yang terpenting adalah menentukan kuat dukung tanahnya terlebih dahulu, sehingga pekerjaan ini perlu penanganan yang detail dan serius, ga boleh main-main..eheh…

  2. Budbud said

    terima kasih bang fikri atas informasinya.. nambah pengetahuan lg
    Btw, jauh2 dr jakarta buat hadiri kuliah umum ini yaa??🙂

  3. Arkus said

    ok,,nambah ilmu lagi nih…thanks for the time you spare…

  4. Artikel bagus..Indonesia pasti bisa seperti Jepang
    salam kenal…Gada Bina Usaha-Elastomeric Bearing Pads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: