blognya cah-cah sipil UGM

komunitas blogger Teknik Sipil dan Lingkungan UGM

Presensi ≥ 70 %

Posted by zulaikha pada November 7, 2008

“Mumpung masih mahasiswa Anda boleh melakukan kesalahan, tapi kalau Anda sudah jadi Sarjana tidak bisa dan tidak boleh melakukan kesalahan”, kata seorang dosen saya.

Pernyataan di atas dalam beberapa detik akan membuat siapa pun yang membaca dan mendengarnya untuk berpikir. Mahasiswa itu memang anak besar yang sudah melepas baju seragamnya untuk dapat disejajarkan dengan orang dewasa. Mahasiswa itu bukan lagi siswa yang harus selalu dituntun oleh ibu atau bapak guru. Mahasiswa adalah maha-nya siswa yang sudah mandiri dan bisa bertanggung jawab dengan apa yang dilakukannya. Mahasiswa adalah siswa yang mempelajari ilmu khusus dan dia akan menjadi orang yang paling menguasai ilmu dan bidang yang dia ambil di bangku kuliah. Inilah beberapa definisi mahasiswa yang saat ini berkembang di dunia mahasiswa.

Mahasiswa mandiri artinya mahasiswa harus bertanggung jawab dengan apa yang akan, sedang, dan telah dilakukannya. Dalam dunia kemahasiswaan Indonesia, seorang mahasiswa akan didampingi oleh seorang dosen pembinbing akademik. Dosen ini yang akan memberikan masukan sebagai bahan pertimbangan mahasiswa dalam menyusun rencana studinya. Mahasiswa dipersilakan sebebas-bebasnya untuk merencanakan studinya. Jika dia ingin cepat lulus, hanya satu syaratnya IP tinggi. IP tinggi adalah modal utama untuk dapat mengambil mata kuliah yang lebih banyak di semester depan. Kesempatan mengambil kuliah di semester atas berarti semester berikutnya beban studi akan berkurang atau bisa mengambil kuliah semester atas lainnya. Namun jika mahasiswa yang bersangkutan tidak berkenan unutk mengambil jalan cepat lulus tersebut, juga dipersilakan. Dosen pembimbing kadang memang bisa membujuk namun segala keputusan ada di tangan mahasiswa.

Pertimbangan mengambil mata kuliah banyak atau sedikit ini juga dipengaruhi kesibukan mahasiswa yang bersangkutan. Konsekuensi mengambil mata kuliah banyak adalah banyak tugas, banyak kuliah, banyak ujian dan quiz, serta praktikum. Semua rangkaian kegiatan ini tidak boleh dan tidak bisa dilewati. Melewatkan satu item pekerjaan bisa jadi tidak bisa yudisium dan lulus. Rangkaian kegiatan inilah yang diharapkan akan membuat mahasiswa mengerti dan menguasai dengan baik mata kuliah yang diberikan.

Kuliah berarti bertemu dengan dosen. Dosen dalah akademisi yang dengan tri dharma– nya mengabdi pada kampus dan masyarakat adalah orang yang menguasai ilmu yang digeluti dengan amat baik. Pengalaman di lapangan, banyaknya referensi yang menjadi pedoman, serta permasalahn yang ditemui lapangan menjadikan dosen nara sumber tiada henti bagi mahasiswanya. Kesempatan mahasiswa dengan dosen untuk berinteraksi dan berdiskusi adalah kesempatan emas mahasiswa unutk memperluas cakrawala pengetahuannya terutama pengetahuan aplikatif yang sedikit sekali didapatkan dari buku. Salah satu momen interaksi ini adalah dengan mengikuti kuliah dosen.

Praktikum adalah yang menjembatani penguasaan teori dan praktek di lapangan. Apa yang dilakukan di laboratorium, tes apa saja yang dilakukan di sana akan menjadi pedoman dan mahasiswa yang akan terjun bekerja di lapangan nantinya. Dengan praktikum inilah mahasiswa bisa mencocokkan teori yang didapatkan di kuliah.

Buku dan perpustakaan adalah referensi yang sangat krusial bagi mahasiswa, begitu juga dengan internet. Perluasan ilmu dan pendalaman ilmu bisa didapatkan dari sini, namun tetap ada poin-poin yang harus disampaikan oleh orang yang berpengalaman. Estimasi, asumsi, pemikiran, dan sense dalam penetuan keputusan aplikatif kadang belum bisa ditentukan hanya dengan melihat buku, harus ada orang yang menuntun dan memberikan pengertian. Inilah sebenarnya titik berat dan alasan kenapa kuliah diadakan.

Konsekuensi menjadi mahasiswa adalah kuliah, namun pengertian bahwa mahasiswa sudah mandiri kadang dijadikan tameng untuk tidak mengikuti kuliah seorang dosen. Ada memang mahasiswa yang tidak kuliah sekali pun namun pada saat ujian dia mendapatkan skor tinggi dan untuk kasus seperti ini memang dimaklumi karena dia adalah mahasiswa yang jenius, namun yang terjadi sekarang adalah pemahaman keilmuan mahasiswa yang menurun. Disinyalir terjadi penurunan kualitas mahasisawa. Penyebab penurunan kualitas ini disinyalir pula adalah ketidakhadiran mahasiswa di kelas untuk bertemu dengan dosen. Dengan demikian kulitas sebuah perguruan tinggi menjadi terancam, bukankah prestasi mahasiswa adalah ujung tombak kualitas sebuah perguruan tinggi??

Gedung Pusat UGM. Sumber gambar: http://www.alumni.ugm.ac.id

Universitas Gadjah Mada merespon maslah ini dengan program “Jaminan Mutu”. Secara garis besar program ini akan mengawasi proses pendidikan di universitas agar memenuhi standar kualitas yang diinginkan. Kebijakan ini akhirnya diikuti dengan kebijakan presensi ≥ 70 %. Kebijakan ini sudah ada sejak tahun 2002, namun di beebrapa fakultas kebijakan ini hanya dipasang, ditempel layaknya pengumuman, namun walau demikian waktu itu hanya menjadi wacana, kebijakan tersebut tidak diterapkan, baru pada tahun 2005 kemarin kebijakan ini diterapkan. Terasa aneh ketika kebijakan baru yang selama dua tahun tidak diberlakukan secara mendadak diberlakukan, shock terapi mungkin, namun dampak yang terjadi begitu besar, konsekuensi tidak memenuhi kuota ini adalah tidak dikeluarkannya nilai mata kuliah yang diambil walaupun dosen pengampu memberi nilai, walaupun nilai yang diberikan adalah A. Hingga saat itu akhirnya mahasiswa tidak bisa berbuat apa-apa walau nilainya A, nilai tetap tidak bisa keluar dan harus menunggu tahun depan.

Peraturan demikian memang perlu, terbukti, sejak kontroversi presensi tersebut kelas pun menjadi ramai, banyak mahasiswa datang untuk mengikuti kelas. Kondisi ini menunjukkan bahwa mahasiswa cukup apreciate dengan kebijakan ini namun ini juga tidak berlangsung lama. Mahasiswa kembali ke kehidupan normalnya, yang kadang, kadang, kadang tidak masuk. Kondisi ini menjadi semakin tidak baik karena fenomena titip absen kembali marak. Arti titip absen adalah berbohong, namun jika tidak demikian tidak bisa ujian dan nilai tidak keluar. Dilematis.Haruskah kampus memiliki kamera di setiap kelas unutk merekam mahasiswanya, haruskah kampus memiliki security guard electronics, yang akan mendeteksi setiap mahasiswa dengan sidik jarinya??

Presensi ≥ 70 % memang kontroversi, namun sebuah kenyataan kenapa mahasiswa sering tidak menghadiri kuliah juga perlu dicari solusinya. Hingga saat ini dengan 144 SKS yang ditempuh selama 4 tahun mahasiswa masih harus mengikuti kuliah hingga semester 7. Padahal di negara lain masa kuliahnya semakin memendek. Kuliah antara hak dan kewajiban memang perlu dipertanyakan. Seorang mahasiswa memabayar biaya pendidikan berarti dia membayar fasilitas yang akan dinikmatinya selama kuliah, termasuk mendapatkan penyampaian materi yang menarik dari seorang dosen. Yang terjadi kemudian mahasiswa kadang enggan mengambil haknya tersebut.

Salam…sebuah renungan pascanilai A saya untuk mata kuliah Jalan Rel, B untuk mata kuliah SBB3, dan nilai A untuk mata kuliah Baja 2 tidak keluar, karena presensi saya tidak memenuhi 70% secara otentik. Padahal saya mengikuti kuliah dengan rajin, dan enggan titip absen, mungkin waktu itu saya sibuk sekali jadi saya melewatkan hitungan jatah bolos saya, yang harusnya 4 karena terlalu sibuk lupa menghitung, jadi saya bolos 5 kali.

3 Tanggapan to “Presensi ≥ 70 %”

  1. seven eleven dgn pendapat penulis. Mahasiswa seharusnya sudah mengerti hak dan kewajibannya, mereka bukan anak kecil lagi. Peraturan presensi itu juga agak rancu menurut saya, karena pihak kampus sering mendorong mahasiswa untuk aktif berorganisasi tetapi dilain sisi mereka membuat peraturan yang menyulitkan mahasiswa untuk aktif di luar.
    Jadi, yg saya perlu tekankan adalah mahasiswa semestinya sudah tahu hak dan kewajibannya, tinggal mereka sendiri yg mengaturnya.

  2. ariebp said

    Penyebab penurunan kualitas ini disinyalir pula adalah ketidakhadiran mahasiswa di kelas untuk bertemu dengan dosen.

    sakjane,,,nek menurutku,,beda insinyur jaman dulu dan sekarang adalah,,waktu studi. jaman dulu kalo maw jadi insinyur bisa kuliah sampe 10 taun, karena ngulang 1 mata kuliah berkali2. mencari nilai A B C susah. dosennya ketat ngasih nilai. kalo sekarang???

  3. Amrul said

    “Kuliah berarti bertemu dengan dosen…. ”

    Wah, sekarang kayaknya sudah mulai bergeser paradigmanya. Sekarang sudah ada kampus virtual, gak pernah ketemu sama dosennya secara langsung. Cuma lewat sebuah program yang disebut dengan ALIM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: